Medialabuanbajo.com,- Sebanyak 82 siswa dari dua sekolah dasar di Bajawa dilarikan ke RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada, Rabu (26/11/2025) pagi, setelah mengalami gejala demam dan pusing usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para siswa yang terdampak berasal dari SD Katolik Regina Pacis sebanyak 59 orang dan SDI Waturutu sebanyak 23 orang.
Sejumlah anak SD ini histeris ketika memenuhi UGD RSUD Bajawa, dengan kondisi badan demam dan kepala pusing.
Tampak petugas medis kewalahan menangani anak yang mengalami pusing dan kejang. Anak-anak ini juga tidak mampu menahan rasa demam tinggi.
Kepala SPPG Ngada Randy Lalu, menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan penyebab keracunan sebelum hasil laboratorium keluar.
“Sampel akan dibawa ke lab di Sikka. Dugaan sementara ada keracunan ikan, tetapi kami belum bisa simpulkan,” jelas Randy.
Ahli gizi Dapur Bolonga, Maria Yolanda Aleksandria Maun, mengatakan indikasi awal mengarah pada kualitas ikan dari suplayer tangan pertama, terutama pada bagian penyimpanan.
“Tempat penyimpanan yang tidak steril atau salah bisa menyebabkan ikan menjadi gatal,” ujar Maria.
Ia menjelaskan bahwa ikan diterima dari pemasok pada Selasa sore pukul 16.25 Wita, dan langsung dibersihkan. Pihaknya mengklaim telah melakukan pemeriksaan tekstur luar sebelum proses pengolahan.
Sebelum disuplai ke sekolah, pihak dapur juga melakukan uji organoleptik (hedonik) terhadap bahan makanan.
“Hasil pengujian kami hari ini menghasilkan poin 4, artinya ‘suka’. Ada empat indikator yakni: tidak suka, kurang suka, suka, dan sangat suka,” jelasnya.
Maria menyebut, menu MBG pada hari kejadian menggunakan ikan tuna yang didatangkan dari Riung. Ikan diolah dengan cara digoreng menggunakan campuran tepung terigu.
“Dapur mulai memasak sekitar pukul 04.00 Wita. Sebelum menggoreng, kami tunggu satu selesai baru masukkan yang lain, tetap dalam kondisi fresh,” ungkapnya.
Adapun Dapur Bolonga mulai beroperasi sejak 3 November 2025, dan telah melayani 10 sekolah dengan jumlah total 1.280 siswa.
Sekolah yang dilayani terdiri dari empat Tamak Kanak Kanak yakni TK Recis, TK Bogenga, TK Ngora Nale, dan Kober Jawa Sale Watu Tura. Selain itu juga melayani lima Sekolah Dasar yakni SD Recis, SD Watu Tura, SD Waturutu, SD Bogenga, dan SD Ngora Nale.
Total tenaga kerja dapur mencapai 48 orang, bekerja dalam sistem shift pukul 19.00–07.00 Wita.
Ahli gizi juga menjelaskan bahwa dapur telah memetakan siswa dengan alergi tertentu.
“Khusus anak yang alergi telur, kami gantikan dengan ayam. Menu ikan tuna biasanya disajikan setiap hari Rabu,” ujarnya.
Menu dapur Bolonga terdiri dari unsur hewani terdiri dari ikan, ayam, telur dan nabati yakni tempe dan tahu.
Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu, menyampaikan keprihatinan dan menyesali terjadinya insiden tersebut.
“Situasi ini memang tidak mengenakkan. Kami Pemerintah Kabupaten Ngada sangat menyesali hal ini bisa terjadi. Kita mengakui adanya kelemahan dari pihak-pihak yang berurusan dengan MBG ini,” tegas Wabup Bernadinus, Rabu 26 November 2025.
Ia menegaskan pemerintah telah mengambil langkah cepat untuk mencegah kejadian serupa. Langkah pertama, kata dia, adalah menghentikan sementara operasional dapur penyedia makanan sambil menunggu investigasi mendalam.
“Kami menyurati semua pihak terkait dalam SPPG untuk memberhentikan sementara dapur sambil kita investigasi penyebab kejadian ini. Karena sekarang semua pihak mengambil kesimpulan sendiri-sendiri. Ada yang menduga dari makanan, proses penyajian tahu-tempe, atau lauk yang disajikan untuk anak-anak,” jelasnya.
Wabup menyebut proses investigasi akan melibatkan seluruh unsur terkait.
“Mulai dari suplayer, pengelola dapur, ahli gizi, tenaga kesehatan, kepala SPPG maupun koordinator wilayah semua akan kita libatkan,” ujarnya.
Menurutnya, kelalaian menjadi faktor utama yang harus segera dibenahi.
“Kita memberikan catatan kepada pengelola agar sungguh memperhatikan hal ini. Sesungguhnya ini karena kelalaian, dan kita harapkan ini tidak boleh terjadi lagi.”
Ia menegaskan bahwa program MBG merupakan program pemerintah pusat yang wajib dijalankan dengan penuh kewaspadaan.
“Ini program pusat, kita mesti mendukung penuh, namun tetap harus dijalankan dengan hati-hati dan mematuhi protap yang sudah ada,” katanya.
Bernadinus mengungkapkan pemerintah bersama unsur Forkopimda dan DPRD telah meninjau langsung kondisi para siswa di rumah sakit.
“Kami sudah bersama DPRD dan pimpinan perangkat daerah meninjau langsung kondisi anak-anak. Bagi anak-anak yang sudah mencicipi makanan tersebut, kami minta datang ke rumah sakit untuk diperiksa karena gejalanya bisa muncul di rumah,” tegasnya.
Ia menyebut kejadian ini menjadi peringatan keras bagi pengelola dapur.
“Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi teman-teman pengelola dapur. Ini tidak boleh terjadi, artinya ada protap yang dilanggar. Mereka akan kita panggil untuk dievaluasi,” tegasnya.
Sebagai langkah sementara, pemerintah memutuskan menghentikan aktivitas dapur sambil memulihkan kondisi psikologis para siswa.
“Untuk sementara, operasi dapur kita istirahatkan sambil dilakukan investigasi mendalam. Yang kedua, untuk mengurangi efek traumatis pada anak-anak, kita pulihkan dulu psikologis mereka,” pungkasnya. (*)















