
YOGYAKARTA – Ruang digital Indonesia kembali memanas. Kali ini, sebuah interaksi di media sosial antara Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, dan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol. Sony Sonjaya, menjadi pusat publik. Polemik ini bermula dari respons akun resmi sang jenderal yang menyertakan tiga “emoji monyet” saat menanggapi kritik mahasiswa.Perdebatan ini dipicu oleh diskusi mengenai efektivitas program pemenuhan gizi nasional di kolom komentar Instagram. Akun terverifikasi @sonysonjayabd awalnya memberikan argumen substantif terkait capaian program tersebut.
“Ia memaparkan bahwa program gizi telah menjangkau 60 juta jiwa—mencakup balita hingga ibu hamil—serta menyerap lebih dari satu juta tenaga kerja. Namun, suasana berubah ketika akun tersebut juga menyertakan tiga emoji monyet dalam rangkaian balasannya, sebuah simbol yang dianggap banyak pihak tidak pantas dikeluarkan oleh seorang pejabat publik.”
Merespons hal tersebut, Tiyo Ardianto tidak tinggal diam. Melalui unggahan bertajuk “Emoji Monyet”, ia memberikan refleksi mendalam yang justru menyerang balik integritas moral para pemegang kekuasaan.Tiyo menegaskan bahwa penggunaan simbol tersebut bukan merendahkan dirinya sebagai pengkritik, melainkan menunjukkan rapuhnya kedewasaan penguasa dalam menerima perbedaan pendapat.
“Manusia dan monyet itu sejatinya satu keluarga primata. Yang berbeda, monyet tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai makhluk paling mulia. Tapi, buktinya justru monyet tidak pernah korupsi, tidak menindas saudaranya, dan tidak menjilat demi dapat pangkat,” tulis Tiyo dalam unggahannya yang viral.
Kalimat paling pedas dalam unggahan tersebut menyasar pada isu akuntabilitas: “Monyet tidak menjadi bagian dari mereka yang bermulia-mulia menarasikan pentingnya gizi, tapi diam-diam menjadikan gizi kedok maling.”Insiden ini memicu gelombang diskusi netizen mengenai standar etika komunikasi pejabat negara. Banyak pihak menyayangkan penggunaan simbol yang ambigu dan berpotensi merendahkan (derogatory) di tengah upaya pemerintah membangun kepercayaan publik terhadap program nasional.
Aksi Tiyo Ardianto mendapat dukungan luas dari kalangan mahasiswa yang menilai bahwa substansi kritik tidak boleh tenggelam oleh perilaku antikritik.Polemik ini menjadi pengingat keras bahwa di era digital, setiap ketukan jari seorang pejabat publik adalah representasi dari wajah institusi yang dipimpinnya.
#BGN #Mahasiswa








