Medialabuanbajo.com,- Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada siswa, tapi juga petani lokal. Dengan adanya program ini, petani memiliki pasar yang lebih stabil untuk hasil pertaniannya. Dengan demikian, program MBG berdampak positif pada ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat.
Ketua Kelompok Tani Locak Jaya di Kelurahan Wali Kecamatan Langke Rembong, Anselmus Deok mengaku menyambut baik program Presiden Prabowo, Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program itu dinilai mampu mendongrak perekonomian petani.
“Selama ini kami tanam buncis, wortel, selada keriting, dan jenis tanaman lainnya untuk kebutuhan dapur MBG. Kelompok tani kami sangat beryukur dengan adanya program MBG, karena meningkatkan harga hasil pertanian kami” ujarnya.
Ia mengungkapkan, selama ini harga hasil pertanian mereka sangat rendah. Tetapi setelah ada program MBG, harganya meningkat hingga dua kali lipat.
Seperti harga wortel, selama ini saat mereka jual ke pasar Inpres Ruteng, hanya Rp10 ribu per kg. Sementara saat menjual ke dapur MBG menjadi Rp20 hingga Rp25 ribu per kg.
Selain soal harga, kebutuhan pasar juga selama ini sangat rendah, tak jarang hasil pertanian mereka tidak laku dan mubazir.
“Harga buncis juga begitu, kalau sebelumnya kami hanya jual Rp5 ribu per kg. Tetapi daei dapur MBG mereka belinya Rp20-23 ribu per kg. Pokoknya semua jenis horti yang dibutuhkan MBG dan kami tanam harganya naik semua. Kami sangat senang” ujarnya, Jumat 20 Februari 2026.
Dengan adanya kepastian soal pemasaran dan harga yang menjanjikan, menurutnya semangat kelompok tani semakin membara.
“Kami lebih bersemangat lagi untuk bertani sekarang karena ada kepastian soal pemasaran dan harga. Kami berharap agar program ini berjalan terus, karena kami sebagai petani juga merasakan dampak positifnya” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, selama ini kelompok tani mereka telah menjalin kerjasama dengan beberapa Dapur MBG.
“Selama ini kita bangun komunikasi dengan pihak Dapur MBG, apa saja jenis tanaman yang dibutuhkan, bagaimana standarnya. Sehingga saya sampaikan semuanya kepada anggota kelompok untuk ikuti kebutuhan dapus dan standar yang ditetapkan. Terbukti selama ini, petani lebih semangat bekerja, karena ada kepastian soal pemasaran dan harga, tidak ada yang terbuang” katanya.
Petani di Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Gili Jenadi mengaku bertani hortikultura sejak tahun 2015 lalu. Ia menanam berbagai jenis tanaman sesuai permintaan pasar seperti tomat, cabe, buncis, sawi putih dan jenis tanaman sayur lainnya.
Perjuangannya tidak berjalan mulus, dalam perjalanannya selama ini mengalami sejumlah kendala, mulai dari tanaman yang terserang penyakit seperi layu fusarium pada tanaman cabe dan tomat hingga masalah pemasaran.
Namun karena kegigihannya, ia tetap tekun bertani. Penyakit yang menyerang tanamannya berhasil diatasi dengan pestisida.
Namun masalah pemasaran selalu muncul dari waktu ke waktu, mulai dari harga yang rendah hingga hasil yang tidak laku di pasaran.
“Selama ini dari pasar juga banyak tengkulak, misanya tomat mereka beli dengan kami harga Rp7-8 ribu per kg, sedangkan mereka jual di pasar Rp20 ribu per kg” ujarnya kepada Beritasatu di lahan miliknya, Kamis 19 Februari 2026.
Sedangkan hasil panen Buncis selama ini, jarang laku di pasar. Sehingga banyak yang terbuang cuma-cuma.
Gili mengaku sangat bersyukur adanya program MBG, karena bisa menyelesaikan masalah pemasaran dan harga yang selama ini selalu dihadapi para petani.
Menurutnya, sejak ada program MBG, permintaan cukup besar bahkan petani juga kewalahan memenuhi kebutuhan untuk sejumlah Dapur MBG.
“Tahun 2025 saya tanam buncis 3.000 pohon, semuanya laku untuk kebutuhan MBG. Kalau sebelumnya, permintaan pasar kurang sehingga banyak hasil panen kami yang mubazir dan dibuang cuma-cuma” ujarnya.
Untuk tahun 2026, Gili mengaku lebih bersemangat lagi untuk bertani karena adanya kepastian soal harga dan pemasaran.
Ia bahkan berani memulai tanam wortel di lahan miliknya, sesuai dengan kebutuhan di dapur MBG. Baginya dapur MBG sangat menjanjikan untuk petani.
“Selama ini saya fokus tanam tomat, dan cabe keriting. Tetapi untuk ke depan saya akan ganti dengan brokoli, kol bunga dan wortel sesuai dengan kebutuhan di Dapur MBG. Program MBG ini sangat membantu sekali, khususnya kami yang bergerak di bidang holtikultura” ujarnya.
Gili mengaku, sebelumnya saya tidak berani tanam wortel, karena kebutuhan pasar sedikit harganya juga murah. Tetapi sekarang akan memulai tanam wortel karena ada kepastian soal pemasaran dan harganya juga sangat bagus.
“Kebutuhan wortel sangat tinggi di MBG dan brokoli. Kami sebagai petani juga sangat optimis soal pemasarannya, malah yang kami tanam juga kurang. Harapannya, kita sebagai petani agar program ini berjalan terus, karena kami juga merasakan dampak positifnya. Kami menyambut baik program MBG, karena menguntungkan para petani” ujarnya.
Butuh Intervensi Pemda
Semangat petani Hortikultura di Kabupaten Manggarai menyambut program MBG rupanya belum mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah.
Ketua Kelompok Tani Harapan Baru, Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, Mikael Jehudu mengaku selama ini menanam banyak jenis tanaman horti seperti buncis, tomat, timun, kol bunga daun bawang, dan terung. Ia mengaku ikut merasakan dampak positif dari program MBG.
“Program MBG ini ada nilai tambahnya untuk kami sebagai petani. Seperti harga timun, kalau selama ini ketika jual ke pasar, hanrganya Rp3 ribu per kg. Sedangkan selama ada program MBG, kami jual ke dapur MBG itu menjadi Rp10-12 ribu per kg. Yang saya alami seperti itu” ujarnya.
Melihat kepastian soal pemasaran dan harga di dapur MBG, membuat Mikael lebih semangat lagi untuk menanam, namun terkendala modal.
“Kami kendala modal, selama ini sebenarnya kami mau tanam dalam jumlah banyak, tetapi masih kendala modal untuk beli bibit, karena harganya cukup mahal dan biaya perawatan” katanya saat ditemui Beritasatu, Jumat 20 Februari 2026.
Ia bahkan menilai, Pemerintah Kabupaten Manggarai belum siap menyambut program MBG, khususnya soal intervensi anggaran untuk pertanian.
“Selama ini ada bantuan bibit dari pemerintah, tetapi bibit yang dibagikan tidak sesuai dengan permintaan pasar dan kebutuhan petani. Contohnya boncis, tomat, jenis bibit tomat yang dibagikan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, sehingga kami tidak gunakan bibit itu, karena percuma, kalau kami paksa tanam, tidak ada yang beli. Begitu juga buncis. Apa yang saya omong ini fakta” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah Kabupaten Manggarai mestinya turun langsung ke pasar dan para petani untuk mengetahui pasti kebutuhan.
“Pasar yang menentukan, janis tanaman apa saja yang laku, tetapi kalau bantuan yang diberikan kepada petani, tetapi tidak sesuai dengan permintaan pasar, tidak ada gunanya, mubazir” katanya.
Seperti Buncis kata dia, yang laku di pasaran adalah jenis Buncis Tresna XL. Namun, bantuan bibit yang diberikan pemerintah jenis lain.
Menurutnya petani Manggarai belum siap menyambut program MBG ini, sehingga perlu intervensi dari pemerintah daerah, sebagai perpanjangan tangan dari Presiden.
“Pemerintah harus cek, lokasi ini cocoknya untuk tanam apa, begitu juga jenis intervensinya. Mengapa Dinas Pertanian tidak bekerja? Saya tidak takut untuk mengatakan ini. Selama ini tidak pernah ada perhatian, kalau mereka ada hari ini saya mau tanya langsung kepada Dinas Pertanian, apa yang kau buat selama ini untuk saya sebagai petani? Saya tidak mau mengada-ada. Ini fakta” katanya.
“Saya sebagai petani sangat marah, saya tahu ada anggaran dari pusat untuk kami sebagai petani ini, tetapi kenapa tidak sampai ke kami?” tambah dia.
Meski begitu, ia tetap berharap agar Program MBG tetap berjalan karena telah memberikan kepastian pemasaran dan harga kepada para petani.
Dapur MBG Prioritas Hasil Petani Lokal
Kepala SPPG Golo Dukal 2, Rikardus Nogur mengatakan bahwa sesuai dengan arahan bahwa program MBG harus memberikan dampak untuk masyarakat, bukan hanya kepada siswa sebagai penerima manfaat.
Sehingga kebutuhan bahan pokok di Dapur MBG prioritaskan hasil pertanian masyarakat lokal.
“Kami sangat bersyukur juga masyarakat sangat menyambut baik program ini, itu memudahkan kami untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, seperti hasil pertanian masyarakat di sekitar. Kebutulan di sini juga wilayah horti” katanya, Jumat 20 Februari 2026.
Selama ini pihaknya sering melihat langsung lahan pertanian masyarakat, dan memberitahukan jenis tanaman yang dibutuhkan oleh Dapur MBG dan standarnya.
“Masyarakat menyambut baik, mereka tanam sesuai kebutuhan dapur, standarnya juga sesuai dengan yang ditentukan. Selain itu juga untuk kebutuhan makanan kering, karena setiap hari sabtu menunya makanan kering. Selama ini untuk kebutuhan bahan baku kami prioritaskan hasil pertanian warga sekitar. Tentunya mengikuti standar yang dibutuhkan dapur” katanya.
Selain berdampak untuk para petani, menurut Rikardus program MBG juga berdampak untuk para pencari kerja.
“Kami menilai, program MBG ini bukan hanya bermanfaat untuk siswa saja, tetapi banyak sektor, seperti tersedianya lapangan kerja baru, berdampak untuk para petani, peternak, pelaku UMKM dan untuk sektor lainnya” ujarnya.
Untuk SPPG Golo Dukal 2, total pekerja sebanyak 50 orang yang terdiri dari, staf 4 orang, ahli gizi, bendahara, asisten lapangan, dan relawan dapur 46 orang.
Menurut Rikardus, sebagian besar yang kerja di SPPG tersebut termasuk dirinya berasal dari keluarga yang kurang berada. Sehingga sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan setelah ada program MBG ini.
“Yang kerja di sini, ada yang sebelumnya pengangguran, ada korban phk, dan berbagai latarbelakang lainnya. Dari sisi pendapatan, juga cukup bagus untuk para pekerja” katanya. (*)













