Medialabuanbajo.com,- Polemik antara Asosiasi Angkutan Wisata Darat (AWSTAR) Labuan Bajo dan Grab tak kunjung usai. Benturan kepentingan antara transportasi konvensional dan layanan berbasis aplikasi kini tak lagi sebatas adu argumen, tetapi mulai merambah pada aksi-aksi di lapangan.
Pada Jumat 27 Februari 2026, seorang mitra pengemudi GrabBike dilaporkan mengalami pengadangan dan penyitaan kunci motor saat melakukan penjemputan penumpang.
Mirisnya, peristiwa itu terjadi di Area Bandara, yang mestinya menjadi simbol keterbukaan pariwisata dan keramahan layanan justru berubah menjadi panggung konflik kepentingan ekonomi.
Aksi tersebut berujung pada pertemuan tegang di Satuan Lalu Lintas Polres Manggarai Barat. Audiensi antara perwakilan AWSTAR dan mitra Grab berlangsung alot, namun tidak menghasilkan kesepakatan tertulis.
Pada Senin 13 April 2026, pertikaian antara pengemudi GrabBike dan anggota AWSTAR kembali pecah. Salah satu pengemudi GrabBike diadang anggota Awstar karena dinilai melanggar kesepakatan yang telah dibuat.
Kedua belah pihak kembali melakukan mediasi di Satlantas Polres Manggarai Barat pada hari yang sama, namun tidak membuahkan hasil.
Selanjutnya pada Selasa 14 April 2026, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) bersama Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Mabar memfasilitasi mediasi antara pihak operasional GrabBike dan AWSTAR
Terdapat tujuh poin utama kesepakatan dalam dokumen berita acara yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Salah satu poin krusial adalah pembatasan area penjemputan bagi GrabBike di area sekitar bandara.
Disebutkannya bahwa pihak GrabBike tidak lagi diizinkan untuk menjemput penumpang dari area seputaran Bandara Internasional Komodo dalam koordinat tertentu.
Namun, Dinas Perhubungan juga menekankan bahwa kesepakatan itu bersifat dinamis dan sementara, sesuai dengan dinamika yang berkembang.
Kendati sudah melakukan mediasi, namun pengemudi Grab tetap melaporkan kasus dugaan penganiayaan yang terjadi Senin 13 April 2026. Anggota AWSTAR menjadi terlapor dalam kasus tersebut.
Di lain sisi, pihak AWSTAR meminta agar kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan, namun pihak Grab menolak permintaan itu.
Coreng Citra Pariwisata
Salah satu Tokoh Muda Manggarai Barat, Filmon Sentosa menilai polemik berkepanjangan antara AWSTAR dan Grab telah merusak citra Pariwisata Labuan Bajo.
Sebab, polemik antara Grab dan AWSTAR terjadi di tempat strategis dan tepat di hadapan wisatawan.
Menurutnya, peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa persaingan transportasi di kota wisata super prioritas ini telah memasuki fase keras, saling klaim ruang, saling kuasai akses penumpang, dan saling tekan secara langsung di ruang publik.
Peristiwa ini menegaskan satu realitas pahit, Labuan Bajo bukan hanya menghadapi lonjakan pariwisata, tetapi juga perang kepentingan ekonomi.
Ruang publik berubah menjadi arena perebutan pasar, bandara menjadi titik panas konflik, dan wisatawan berada di tengah pusaran tarik-menarik kepentingan antara transportasi konvensional dan transportasi digital.
“Kejadian itu tentunya sangat merusak citra pariwisata Labuan Bajo di mata wisatawan. Wisata Super Premium mestinya memberikan keamanan dan kenyamanan bagi siapapun yang datang” ungkapnya.
Dalam beberapa kejadian selama ini, selalu dilakukan mediasi dan membuat kesepakatan. Namun kesepakatan yang hanya bersifat sementara kerap menimbulkan sejumlah persoalan baru di lapangan, dan berulang-ulang.
Filmon mendesak pemerintah untuk segera mencarikan solusi dengan membuat kebijakan yang bisa mengakhiri polemik antara AWSTAR dan Grab.
Jika tidak segera diatur secara tegas oleh pemerintah daerah, otoritas bandara, dan aparat, konflik ini berpotensi membesar. Bukan lagi sekadar perselisihan tarif dan zona jemput, tetapi konflik struktural antar kelompok ekonomi yang sama-sama berebut hidup di kota wisata yang terus tumbuh, namun belum memiliki sistem transportasi yang adil, tertib, dan berkeadilan sosial.
“Tetapi jika pemerintah tidak mampu mencarikan solusi, maka salah satu pihak harus keluar dari Labuan Bajo untuk mengakhiri konflik dan menjaga kondusifitas di Labuan Bajo” ujarnya.
Filmon mengakui, AWSTAR dan Grab merupakan sama-sama penyedia jasa transportasi. Tetapi dari sisi histori, AWSTAR yang lebih dahulu, mereka berdiri di tanah yang sama tempat pariwisata tumbuh. Dari bandara ke pelabuhan, dari hotel ke Kampung Ujung, roda mereka yang menggerakkan denyut ekonomi kota kecil ini sejak dulu.
Sebelum ada Grab, hampir tidak pernah ada masalah dalam jasa transportasi darat di Labuan Bajo.
“Grab datang saat Pariwisata Labuan Bajo sudah maju dan justru menimbulkan persoalan baru. Maka sebelum ada kebijakan resmi dari pemerintah, Grab harus angkat kaki, biarkan AWSTAR yang megengurus jasa transportasi darat di Labuan Bajo. Supaya tidak ada lagi kejadian yang merusak citra pariwisata Labuan Bajo” ungkapnya.
Menurut Filmon, Labuan Bajo boleh maju, tapi jangan sampai yang membangun dari awal justru tergusur. Pariwisata yang tumbuh, tapi juga menghidupi. Bukan pariwisata yang datang dengan aplikasi, lalu meninggalkan mereka tanpa penumpang.
Filmon menegaskan, meminta Grab keluar dari Labuan Bajo bukan menolak transportasi berbasis online atau menolak perkembangan tekhnologi, tetapi untuk menghindari konflik di Labuan Bajo yang berdampak pada citra pariwisata.
“Grab harus keluar dari Labuan Bajo terlebih dahulu, kalau nanti mau masuk ke Labuan Bajo, harus pastikan dahulu jangan sambil timbulkan masalah lagi. Harus ada aturan final yang mengatur soal Grab dan AWSTAR” ujarnya. (*)












