Penulis: Novlianti Huky (Mahasiswa Unika Santo Paulus Ruteng)
Medialabuanbajo.com,- Seiring berjalannya waktu, diabetes melitus bukan lagi sekadar istilah medis yang sering kita dengar di iklan atau percakapan orang tua. Di tengah gaya hidup yang semakin serba cepat seperti sekarang, penyakit ini seolah menjadi ancaman yang makin dekat dengan kita semua.
Banyak orang mengira diabetes hanyalah masalah kadar gula yang tinggi dan hanya menyerang orang tua, namun menurut pandangan saya, pemahaman ini perlu diluruskan. Penyakit ini sebenarnya bisa dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, jika kita tidak menjaga kebiasaan hidup dengan baik.
Pola hidup masyarakat saat ini menjadi salah satu alasan utama mengapa kasus diabetes terus meningkat. Kemudahan mendapatkan makanan instan, makanan manis, dan berlemak menjadi pilihan utama karena dianggap lebih praktis dan menghemat waktu.
Banyak dari kita lebih sering memilih minuman kemasan, kue manis, gorengan, atau camilan yang rasanya enak namun mengandung banyak gula dan lemak tersembunyi, tanpa menyadari dampaknya bagi tubuh dalam jangka panjang.
Ditambah lagi, semakin sedikit orang yang meluangkan waktu untuk bergerak aktif atau berolahraga, karena sebagian besar kegiatan sudah bisa dilakukan hanya dengan duduk di depan perangkat elektronik—baik untuk bekerja, belajar, maupun bersantai.
Tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan kecil ini perlahan membebani tubuh, sehingga kemampuan tubuh mengatur gula darah menjadi terganggu.
Dampak Sosial dan Ekonomi yang Sering Diabaikan
Selain dampak fisik, diabetes juga membawa beban sosial dan ekonomi yang besar. Bahkan ada yang harus rutin cek gula darah tiap bulan. Biaya strip test, obat, sampai kontrol ke dokter itu tidak sedikit, capai jutaan rupiah.
Apalagi jika sudah komplikasi seperti luka di kaki yang susah sembuh atau gangguan penglihatan. Penderita jadi nggak bisa kerja maksimal, keluarga juga ikut terbebani secara mental.
Padahal jika dari awal kita mau mencegah dengan pola hidup sehat, biaya yang dikeluarkan jauh lebih kecil. Jalan kaki 30 menit itu gratis, masak sayur sendiri juga lebih murah daripada beli boba plus ayam geprek tiap hari kan? Dari sini kita belajar: mencegah itu bukan cuma soal sehat, tapi juga soal bijak mengelola hidup.
Peran Lingkungan dan Teknologi
Lingkungan sekitar kita punya peran besar dalam penyakit diabetes melitus. Di kota, iklan minuman manis ada di mana-mana. Di sekolah, kantin lebih banyak jual cireng, seblak, dan es teh manis daripada buah potong. Di rumah, orang tua kadang kasih anak hadiahnya coklat atau es krim karena “biar anak senang”.
Semakin lama lidah kita terbiasa sama rasa manis berlebihan. Teknologi juga pedang bermata dua. Di satu sisi bikin kita mager, tapi di sisi lain sekarang banyak aplikasi gratis buat hitung kalori, pengingat minum air putih, atau video senam 7 menit di YouTube.
Jadi, masalahnya bukan di teknologi, tapi di cara kita memakainya. Kalau bisa scroll TikTok 2 jam, harusnya bisa juga luangin 15 menit buat stretching.
Selain itu, ada faktor lain yang juga perlu diperhatikan secara lebih mendalam.
Pertama adalah riwayat kesehatan dalam keluarga. Jika ada orang tua atau saudara yang pernah menderita penyakit ini, maka risiko kita untuk mengalaminya menjadi sedikit lebih besar. Namun, hal ini bukan berarti kita pasti akan terkena diabetes.
Menurut pandangan saya, faktor keturunan hanya menjadi peluang, sedangkan gaya hidup kitalah yang nantinya menentukan apakah penyakit itu akan muncul atau tidak.
Kedua, stres yang berlarut-larut dan kurang tidur juga turut berperan besar. Ketika tubuh lelah dan pikiran terus tertekan, keseimbangan hormon dalam tubuh akan terganggu, sehingga proses pengolahan makanan menjadi energi tidak berjalan dengan lancar.
Ketiga, kebiasaan merokok dan sering mengonsumsi minuman berkafein secara berlebihan juga dapat memperberat kerja organ tubuh, termasuk pankreas yang berfungsi mengatur gula darah.
Diabetes bukanlah akhir dari segalanya jika kita memahaminya dengan benar. Banyak orang merasa takut dan putus asa ketika mendengar hasil pemeriksaan dari dokter mengenai penyakit yang diderita seperti diabetes melitus ini, padahal sesungguhnya penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik.
Kuncinya ada pada kesadaran diri sendiri dan kemauan untuk melakukan perubahan secara bertahap. Bukan berarti kita harus menghindari semua makanan yang disukai selamanya, melainkan belajar untuk mengatur porsi dan memilih makanan yang lebih sehat.
Misalnya, memperbanyak makan sayuran segar, buah-buahan yang tidak terlalu manis, nasi merah, atau sumber protein dari ikan dan kacang-kacangan, serta membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak jenuh.
Meluangkan waktu berjalan kaki, bersepeda, atau bergerak ringan selama 30 menit setiap hari juga sangat membantu tubuh membakar kelebihan gula dan menjaga berat badan tetap ideal.
Selain itu, rutin memeriksakan kesehatan agar dapat mengetahui kondisi tubuh sejak dini sebelum timbul keluhan apa pun.
Yang tidak kalah penting adalah memahami tanda-tanda awal penyakit ini agar kita bisa bertindak lebih cepat. Sering merasa haus meskipun sudah minum, sering buang air kecil terutama pada malam hari, cepat merasa lelah tanpa sebab yang jelas, luka yang sulit sembuh, pandangan yang mulai kabur, atau berat badan yang turun drastis tanpa sengaja adalah beberapa hal yang perlu kita waspadai.
Jika kita mengenali gejala ini sejak awal, langkah perbaikan gaya hidup yang dilakukan akan memberikan hasil yang jauh lebih baik dan mencegah timbulnya masalah lain di kemudian hari.
Menjaga diri dari diabetes bukanlah hal yang sulit dan tidak harus membutuhkan biaya mahal. Kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana di rumah, seperti memasak makanan sendiri agar lebih terjamin kebersihan dan kandungannya, memperbanyak minum air putih, mengatur waktu istirahat yang cukup, serta meluangkan waktu untuk bersantai agar pikiran tetap tenang.
Kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan memberikan dampak yang besar bagi kesehatan tubuh kita dalam jangka panjang. Perubahan kecil seperti ganti minuman soda dengan infused water, atau naik tangga daripada lift, kalau konsisten hasilnya luar biasa.
Sebagai kesimpulan, diabetes melitus adalah langkah awal yang paling penting. Di tengah gaya hidup modern yang serba mudah dan cepat ini, kita tidak bisa sepenuhnya menghindari perubahan zaman, namun kita tetap bisa memilih cara hidup yang lebih bijak.
Diabetes bukanlah kutukan, melainkan pengingat bagi kita untuk lebih menghargai dan menjaga kesehatan tubuh yang telah Tuhan berikan.
Pencegahan dan pengendalian yang baik jauh lebih baik daripada mengobati ketika penyakit sudah menimbulkan dampak buruk yang berbahaya bagi tubuh. Dengan memulai hal-hal sederhana sejak sekarang, kita bisa terhindar dari penyakit ini dan menjalani hidup yang lebih sehat, bugar, dan bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. (*)












