Opini  

Hantavirus: Seberapa Berbahayakah?

Oleh: dr. Maria Adventin Vasuliana ( Dokter Umum Puskesmas Batu Cermin)

Medialabuanbajo.com,- Belakangan ini, istilah hantavirus ramai diperbincangkan dan membuat banyak orang cemas. Tak sedikit juga yang bertanya-tanya, apakah hantavirus bisa menular antar manusia seperti flu atau COVID-19.

Apa itu Hantavirus?

Hantavirus adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dalam kelompok genus Hantavirus serta ditularkan melalui rodensia seperti tikus dan mencit. Virus ini pertama kali diidentifikasi di wilayah Sungai Hantaan, Korea, sehingga diberi nama hantavirus.

Karakteristik hanta virus, genus ini termasuk dalam family Bunyaviridae. Virus Hanta merupakan virus single stranded RNA dengan selubung yang mengandung lipid (lemak), berpolarisasi negate, berbentuk bulat atau pleomorfik.

Bagaimana penyebaran Hantavirus di Indonesia?

Keberadaan dan sebaran Hantavirus di Indonesia pada manusia masih belum banyak diketahui, meskipun sudah ada studi/laporan kasus penyakitnya.

Bukti serologis Hantavirus pada manusia di Indonesia dilaporkan pertama kali pada tahun 1991 di Pelabuhan Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Bagaimana Penularan Hantavirus?

Hantavirus ditularkan melalui rodensia seperti tikus dan mencit. Oleh karena itu, infeksi pada manusia lebih sering terjadi di daerah tempat manusia dan tikus hidup berdampingan misalnya pada Gudang, lumbung, pertanian maupun rumah lama yang tidak dihuni.

Seseorang dapat tertular Hantavirus dengan menghirup aerosol( partikel padat atau cair yang terdapat di udara) yang mengadung virus terkontaminasi dari hasil eksresi urin, tinja atau air liur dari rodensia yang terjangkit Hantavirus

Apa saja gejala Hantavirus?

Gejala hantavirus umumnya baru muncul sekitar 1–8 minggu setelah seseorang terpapar dan terinfeksi virus tersebut. Keluhan yang timbul bisa berbeda-beda, tergantung organ yang diserang.

Gejala dibagi menjadi 2 gejala tergantung manifestasi klinis. Yaitu Haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) dan Hantavirus pulmonary syndrome (HPS)

Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HFRS umumnya mengalami gejala awal seperti sakit kepala intens, nyeri pada punggung dan perut, demam, menggigil, mual, dan penglihatan kabur, serta terdapat kemungkinan timbul gejala lain seperti wajah kemerahan, peradangan, mata merah, atau ruam.

Setelah mengalami gejala awal, seseorang dengan HFRS dapat mengalami gejala lanjutan seperti tekanan darah rendah, syok akut, pecah pembuluh darah, dan gangguan ginjal akut.

Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HPS umumnya memiliki gejala awal seperti kelelahan, demam, dan nyeri otot terutama di paha, panggul, punggung, dan bahu.

Namun empat hingga sepuluh hari setelah gejala awal, umumnya seseorang dengan HPS mengalami batuk dan sesak napas karena paru-paru yang terisi cairan. Kasus HPS umumnya mengakibatkan tidak berfungsinya otot jantung dan penurunan jumlah aliran darah (hyperperfusion) sehingga HPS sering disebut sebagai Hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS).

Pencegahan Hantavirus?

Pencegahan terhadap Hantavirus dilakukan utamanya melalui pengendalian rodensia serta mencegah kontak dengan urin, tinja, air liur, dan tempat bersarang rodensia.

Upaya mencegah kontak dengan urin, tinja, dan air liur rodensia dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : Menutup lubang atau celah pada dinding dan lantai yang memungkinkan tikus masuk, Menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat, membersihkan rumah dan area kerja dengan disinfektan secara berkala, termasuk membersihkan tempat yang memungkinkan tikus bersarang, seperti tong sampah, gudang, dan ruang yang berantakan atau jarang digunakan serta menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas yang beresiko.

Apakah ada vaksin untuk mencegah Hantavirus?

Sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah terpapar Hantavirus. Untuk mencegah terpapar Hantavirus, dapat menerapkan upaya pengendalian rodensia dan pencegahan kontak dengan urin, tinja, dan air liur rodensia.

Pada akhirnya, membahas hantavirus bukan semata soal penyakit tertentu, melainkan tentang meningkatkan kesadaran bahwa risiko kesehatan bisa muncul dari berbagai situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Upaya pencegahan seperti menjaga kebersihan lingkungan dan memahami sumber risiko adalah langkah awal yang penting, namun tidak selalu cukup untuk mengantisipasi seluruh kemungkinan yang dapat terjadi.

Sumber:

Widodo, W., & Khairullah, A. (2026). Hantaviruses as priority zoonotic diseases: A comprehensive review. The Thai Journal of Veterinary Medicine, 56(2), 11.

World Health Organization. 2018. Nipah virus. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/nipah-virus

Kementerian Kesehatan RI. 2023. Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Virus Hanta Di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *