
Medialabuanbajo.com – Warga dan pelaku usaha di Labuan Bajo tengah menghadapi krisis pasokan elpiji yang berdampak langsung pada lonjakan harga signifikan, khususnya untuk tabung 12 kilogram. Jika sebelumnya elpiji 12 kg masih dapat diperoleh dengan harga sekitar Rp295 ribu per tabung, kini harganya melonjak hingga mencapai Rp360 ribu.
Kondisi ini memicu keresahan di tengah masyarakat, terutama bagi pelaku usaha kecil seperti pemilik warung makan, kafe, hingga sektor pariwisata yang sangat bergantung pada ketersediaan energi tersebut. Kelangkaan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir membuat distribusi elpiji tidak stabil, sementara permintaan tetap tinggi.
Sejumlah warga mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain hanya untuk mendapatkan satu tabung elpiji. Bahkan, tidak sedikit yang terpaksa membeli dengan harga jauh di atas harga normal karena keterbatasan stok di pasaran.
“Biasanya kami beli Rp295 ribu, sekarang sudah Rp360 ribu. Itu pun susah dapatnya,” ujar Mas Jul salah satu pemilik usaha kuliner di Labuan Bajo.
Diduga, kelangkaan ini dipicu oleh terganggunya distribusi serta kemungkinan adanya praktik penimbunan oleh oknum tertentu yang memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan lebih besar. Selain itu, peningkatan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo juga turut mendorong tingginya konsumsi elpiji.
Hingga saat ini, masyarakat berharap adanya langkah cepat dari pemerintah dan pihak terkait untuk menstabilkan pasokan serta mengendalikan harga di lapangan. Tanpa intervensi yang jelas, kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi lokal yang sedang bertumbuh.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan segera melakukan pengawasan distribusi, operasi pasar, serta memastikan tidak ada praktik penyimpangan dalam rantai pasok elpiji yang merugikan masyarakat.




