Berita  

81 Tahun Merdeka, Warga Wolosambi Belum Nikmati Listrik dan Surati Presiden Prabowo

Medialabuanbajo.com,- Di ujung Manggarai Timur, ada kampung yang malamnya masih digariskan matahari. Saat kota-kota bergemerlap, Dusun Wolosambi, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, justru tenggelam dalam gelap. Anak-anak menabung cahaya senja untuk mengerjakan PR, ibu-ibu menakar waktu dengan api di sumbu pelita. 

Bukan karena mereka menolak zaman, tapi karena zaman belum datang membawa kabel dan tiang. 81 tahun merdeka, dan mereka masih menunggu arti merdeka yang paling sederhana: bisa menyalakan lampu di rumah sendiri. Saat malam tiba, kampung ini kembali ke masa lalu. Gelap, sunyi, dan tertinggal.  

Bagi warga Wolosambi, listrik bukan soal bisa nonton TV atau pasang AC. Listrik adalah hak untuk belajar lebih lama, hak untuk bekerja lebih layak, hak untuk merasa sama dengan saudara-saudara sebangsa di wilayah lain.

Karena merdeka bukan hanya soal bendera yang berkibar. Merdeka adalah ketika setiap anak bisa membaca di malam hari tanpa perih menghirup asap pelita.  

Ketua Masyarakat, Frederikus Jonga, bersama warga Dusun Wolosambi,  menyuarakan permohonan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto dan jajaran pemerintah untuk pembangunan jaringan listrik di wilayah mereka.  

Hingga kini, Dusun Wolosambi belum tersentuh aliran listrik PLN. Padahal, menurut warga, jarak gardu listrik terdekat tidak terlalu jauh dari permukiman. Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh saat malam hari.  

“Indonesia sudah 81 tahun merdeka. Tapi bagi kami di pelosok, kemerdekaan itu belum sepenuhnya terasa. Anak-anak kami belajar pakai pelita, ekonomi warga terhambat, pelayanan dasar terganggu,” ujar Frederikus Jonga dalam keterangan tertulis, Senin.  

Ketiadaan listrik paling dirasakan pelajar. Banyak anak harus mengerjakan tugas sekolah sebelum matahari terbenam atau mengandalkan lampu minyak yang berisiko bagi kesehatan.  

Selain itu, pelaku usaha kecil di dusun tersebut kesulitan mengembangkan produksi. Alat elektronik sederhana seperti freezer, mesin jahit, hingga pengisian daya ponsel menjadi barang mewah.  

Warga Wolosambi memohon perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto, Kementerian ESDM, PLN, dan Pemerintah Daerah Manggarai Timur.  

Sebab, selama ini belum ada perhatian serius dari Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur untuk memperjuangkan hal ini. 

“Harapan kami sederhana: hadirkan terang. Listrik bukan sekadar kebutuhan, tapi simbol keadilan dan pemerataan pembangunan,” tegas Jonga.  

Warga menilai, masuknya listrik akan menjadi titik balik kemajuan Dusun Wolosambi. Mulai dari akses pendidikan, ekonomi digital, hingga layanan kesehatan bisa meningkat signifikan.  

Masyarakat Wolosambi berharap permohonan ini tidak berhenti sebagai wacana, melainkan segera direalisasikan sebagai kado nyata kemerdekaan bagi warga pelosok. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *